Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

IMAM ABU HANIFAH TENTANG ASMA & SIFAT

Abu Bassam | Rabu, 25 Maret 2015 - 09:52:20 WIB | dibaca: 3141 pembaca

ilustrasi

Nama beliau adalah Al-Nu'man bin Tsabit bin Zauthi al-Taimi, Abu Hanifah. Beliau adalah ahli fikih dari Irak, imam madzhab Hanafiyah, dan salah satu di antara empat imam madzhab menurut Ahlussunnah. Beliau lahir dan tumbuh di kota Kufah. Setelah menginjak remaja, beliau belajar fiqih kepada Hammad bin Abi Sulaiman al-Asy'ari. Beliau juga banyak belajar dan meriwayatkan hadits dari banyak ulama tabi'in, seperti 'Atha' bin Abi Rabah, Nafi' maula 'Umar, al-Sya'bi, al-Zuhri, dan yang lainnya. Banyak yang meriwayatkan hadits dari beliau, di antaranya anaknya sendiri, Hammad, Zufr, al-Hudzail, Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, Abu Yusuf al-Qadhi, dan yang lain.

Beliau adalah seorang yang zuhud dan wara'. Pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad, Yazid bin Hubairah, gubernur Iraq, meminta dirinya supaya menjadi hakim, tetapi beliau menolak jabatan tersebut. Pada masa pemerintahan sesudahnya, yaitu pemerintahan al-Manshur al-'Abbasi, beliau juga diminta menjadi hakim, tetapi tetap tidak mau menerima jabatan tersebut. Beliau menyatakan, “Aku tidak mampu menjadi hakim.” Al-Manshur bersumpah bahwa dia harus mau melakukannya. Sebaliknya, beliau bersumpah tidak mau melakukannya. Akhirnya, al-Manshur memasukkannya ke penjara hingga meninggal dunia. Ada yang berpendapat beliau meninggal karena diracun. Yang lain berpendapat bahwa beliau meninggal ketika sedang shalat.

Beliau mempunyai wawasan yang luas dalam setiap bidang ilmu keislaman. Beliau membuat hipotesis tentang berbagai masalah, memperkirakan seandainya masalah-masalah tersebut benar-benar terjadi, dan menetapkan hukum-hukumnya dengan qiyas. Beliau juga merinci fiqih menjadi beberapa cabang. Banyak fuqaha' sesudahnya yang mengikuti Abu Hanifah. Mereka membuat hipotesis terhadap berbagai masalah dan memperkirakan jika masalah-masalah tersebut terjadi, kemudian menetapkan hukum-hukumnya.

Beliau sangat ketat dalam menerima hadits dan sangat berhati-hati dalam memilih hadits dan para perawinya. Beliau hanya mau menerima hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh jamaah dari jamaah atau semua fuqaha' dari berbagai negri sepakat mengamalkan hadits tersebut.
Beliau meninggal dalam usia tujuh puluh tahun di Baghdad. ( Al-A'lam: 9/4, Tarikh Baghdad: 13/323-378, Wafayatul-A'yan: 5/405, Al-Mas'udi: 3/304, Al-Bidayah wal-Nihayah: 10/107, Tadzkiratul-Huffazh: 1/168, Al-'Ibar: 1/214, Al-Nujum al-Zahirah: 2/12, Murujudz-Dzahab: 3/304, Al-Ma'arif: 495, dan Da'iratul-Ma'arif al-Islamiyyah, entri Abu Hanifah.)

Di antara perkataan Abu Hanifah:

1. Imam Abu Hanifah berkata,

لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السنة والجماعة، وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته، ورضاه ثوابه. ونصفه كما وصف نفسه أحد صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد، حي قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم، ليست كأيدي خلقه، ووجهه ليس كوجوه خلقه

“Allah Ta'ala tidak boleh diberi sifat-sifat makhluk. Amarah dan ridha-Nya adalah dua sifat di antara sifat-sifat-Nya yang tidak boleh dicari bagaimana kaifiyahnya (hakikatnya). Ini adalah pendapat Ahlussunnah wal Jama'ah. Allah mempunyai sifat marah dan ridha. Tidak boleh dipahami bahwa yang dimaksud dengan amarah-Nya adalah hukuman-Nya, dan ridha-Nya diartikan sebagai pahala-Nya. Kita menetapkan sifat bagi Allah sebagaimana yang Dia tetapkan untuk diri-Nya. Dia adalah Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak mempunyai anak, tidak pula dilahirkan, dan tidak ada satu pun yang sama dengan-Nya. Dia hidup, mendengar, melihat, dan mengetahui. Tangan Allah di atas tangan mereka, tidak seperti tangan-tangan makhluk-Nya, dan wajah-Nya tidak seperti wajah-wajah makhluk-Nya.” ( Al-Fiqh al-Absath: 56.)

2. Imam Abu Hanifah berkata,

وله يد ووجه ونفس كما ذكره الله تعالى في القرآن، فما ذكره الله تعالى في القرآن، من ذكر الوجه واليد والنفس فهو له صفات بلا كيف، ولا يقال: إن يده قدرته أو نعمته؛ لأن فيه إبطالَ الصفة، وهو قول أهل القدر والاعتزال

“Dia (Allah) mempunyai tangan dan wajah serta nafs sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'an. Apa saja yang disebutkan Allah dalam al-Qur'an, baik wajah, tangan, maupun nafs, maka itu semua adalah sifat-sifat-Nya tanpa perlu dicari kaifiyah (hakikat)nya. Tidak boleh dikatakan bahwa tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya atau kenikmatan-Nya karena ini berarti membatalkan sifat, dan ini adalah pendapat kaum Qadariyah dan Mu'tazilah.” ( Al-Fiqh al-Akbar: 302.)

3. Al-Bazdawi berkata,

العلم نوعان علم التوحيد والصفات، وعلم الشرائع والأحكام. والأصل في النوع الأول هو التمسُّك بالكتاب والسُّنة ومجانبة الهوى والبدعة ولزوم طريق السنُّة والجماعة، وهو الذي عليه أدركنا مشايخنا وكان على ذلك سلفنا أبو حنيفة وأبو يوسف ومحمد وعامة أصحابهم. وقد صنف أبو حنيفة - رضي الله عنه - في ذلك كتاب الفقه الأكبر، وذكر فيه إثبات الصفات وإثبات تقدير الخير والشر من الله.

“Ilmu itu ada dua: ilmu tauhid dan sifat-sifat, dan ilmu syariat dan hukum-hukum. Dasar dalam ilmu yang pertama adalah memegang teguh al-Kitab dan al-Sunnah, menjauhi hawa nafsu dan bid'ah, dan menetapi jalan Sunnah dan jamaah. Inilah yang kami dapati dari guru-guru kami. Inilah yang ditempuh oleh para pendahulu kami: Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, dan seluruh sahabat mereka. Abu Hanifah Rahimahullah telah menyusun sebuah kitab tentang masalah tersebut, yaitu kitab Al-Fiqh al-Akbar. Di dalamnya beliau menyebutkan penetapan sifat-sifat dan penetapan takdir yang baik dan yang buruk dari Allah.” (Ushul al-Bazdawi: 3 dan Kasyf al-Asrar min Ushul al-Bazdawi: 7-8.)

4. Imam Abu Hanifah berkata,
 
لا ينبغي لأحد أن ينطق في ذات الله بشيء، بل يصفه بما وصف به نفسه، ولا يقول فيه برأيه شيئاً تبارك الله تعالى ربّ العالمين

“Setiap orang tidak boleh mengatakan sesuatu tentang Dzat Allah, tetapi hendaknya menetapkan sifat bagi-Nya sebagaimana yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya. Seseorang tidak boleh mengatakan tentang Dzat-Nya dengan pendapat akalnya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah, Rabb semesta alam.” ( Syarh al-'Aqidah al-Thahawiyyah: 2/427 tahqiq Dr. at-Turki, dan Jala-ul-'Ainain: 368.)

5. Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang turunnya Allah, lalu menjawab,

ينزل بلا كيف

“Dia turun tanpa diketahui bagaimana kaifiyahnya (cara, sifat, atau hakikat).” ('Aqidah al-Salaf Ash-habul-Hadits hal. 42, Al-Asma' wash-Shifat karya al-Baihaqi hal. 456 -Al-Kautsari mendiamkannya-, Syarh al-Thahawiyyah hal. 245, dan Syarh al-Fiqh al-Akbar karya Al-Qari hal. 60)

6. Mulla 'Ali Al-Qari, setelah menyebutkan ucapan Imam Malik “istiwa' itu sudah maklum (diketahui), tetapi kaifiyahnya (cara/sifatnya) tidak diketahui”, berkata, “…itulah yang dipilih oleh imam besar kita, Abu Hanifah. Demikian pula tentang tangan, mata, wajah, dan semua sifat lain yang disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabihat. Makna sifat-sifat ini semua sudah maklum (diketahui). Akan tetapi, kaifiyah (cara atau sifat)nya tidak bisa diketahui. Pengetahuan tentang cara atau sifat adalah cabang dari pengetahuan tentang bentuk dzat dan hakikatnya. Jika dzatnya tidak diketahui, bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui kaifiyah sifat-sifat tersebut? Penjagaan diri yang bermanfaat dalam masalah seperti ini adalah dengan memberi sifat Allah sebagaimana yang Dia berikan kepada diri-Nya dan sebagaimana yang diberikan oleh Rasul-Nya tanpa melakukan tahrif (membelokkan maknanya), ta'thil (menolak atau meniadakannya), takyif (menentukan bentuk dan hakikatnya), atau tamtsil (menggambarkan). Cukup dengan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat tersebut, dan menafikan penyerupaan dengan makhluk. Penetapan yang kamu lakukan adalah bentuk penafian tasybih (menyerupakan dengan makhluk), dan penafian yang kamu lakukan adalah bentuk penafian ta'thil. Orang yang menafikan hakikat istiwa' sama halnya dengan melakukan ta'thil, sedangkan yang menyamakan istiwa'-Nya seperti makhluk berarti dia melakukan tasybih. Adapun yang mengatakan bahwa istiwa'-Nya tidak sama dengan sesuatu pun, berarti dia seorang muwahhid.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: VIII/251).

7. Imam Abu Hanifah berkata,

ولا يقال إن يده قدرته أو نعمته لأنَّ فيه إبطال صفة، وهو قول أهل القدر والاعتزال

“Tidak boleh dikatakan bahwa tangan-Nya berarti kekuasaan-Nya atau kenikmatan-Nya. Pendapat seperti ini sama saja dengan meniadakan sifat. Ini adalah pendapat Qadariyyah dan Mu'tazilah.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

8. Al-Alusi al-Hanafi berkata, “Engkau tahu bahwa jalan yang ditempuh kebanyakan ulama besar dan cendekiawan muslim adalah tidak melakukan takwil secara mutlak, tetapi menafikan tasybih dan tajsim. Di antara mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Syafi'i, Muhammad bin al-Hasan, Sa'd bin Mu'adz al-Marwazi, 'Abdullah bin al-Mubarak, Abu Mu'adz Khalid bin Sulaiman sahabat Sufyan al-Tsauri, Ishaq bin Rahuyah, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, dan Abu Dawud al-Sijistani.” (Ruh al-Ma'ani: VI/156)

9. Imam Abu Hanifah berkata,

ولا يشبه شيئاً من الأشياء من خلقه، ولا يشبهه شيء من خلقه، لم يزل ولا يزال بأسمائه وصفاته

“Dia tidak serupa dengan sesuatu pun di antara makhluk-Nya, dan tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya yang serupa dengan-Nya. Dia senantiasa dan selalu dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

10. Imam Abu Hanifah berkata,

وصفاته بخلاف صفات المخلوقين يعلم لا كعلمنا، ويقدر لا كقدرتنا، ويرى لا كرؤيتنا، ويسمع لا

كسمعنا، ويتكلَّم لا ككلامنا

“Sifat-sifat-Nya berbeda dengan sifat-sifat seluruh makhluk-Nya. Dia mengetahui bukan seperti pengetahuan kita, mempunyai kemampuan bukan seperti kemampuan kita, melihat bukan seperti penglihatan kita, mendengar bukan seperti pendengaran kita, dan berbicara bukan seperti pembicaraan kita…” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

11. Imam Abu Hanifah berkata,

لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين

”Allah Ta'ala tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 56)

12. Imam Abu Hanifah berkata,

وصفاته الذاتية والفعلية: أما الذاتية فالحياة والقدرة والعلم والكلام والسمع والبصر والإرادة،

وأما الفعلية فالتخليق والترزيق والإنشاء والإبداع والصنع وغير ذلك من صفات الفعل لم يزل ولا

يزال بأسمائه وصفاته

“Sifat-sifat-Nya ada yang dzatiyyah dan ada yang fi'liyyah. Sifat-sifat-Nya yang dzatiyyah adalah hidup, berkuasa, mengetahui, berbicara, mendengar, melihat, dan berkehendak. Adapun sifat-sifat-Nya yang fi’liyyah adalah mencipta, memberi rezeki, membuat, mengadakan sesuatu yang baru, menyusun, dan sebagainya. Dia senantiasa dan selalu dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

13. Imam Abu Hanifah berkata,

ولم يزل فاعلاً بفعله، والفعل صفة في الأزل، والفاعل هو الله تعالى، والفعل صفة في الأزل والمفعول

مخلوق وفعل الله تعالى غير مخلوق

“Dia selalu berbuat dengan perbuatan-Nya. Perbuatan adalah sifat-Nya sejak azali, sedangkan pelakunya adalah Allah Ta'ala. Perbuatan adalah sifat sejak azali. Adapun yang dikenai perbuatan adalah makhluk, sedangkan perbuatan Allah Ta'ala bukan makhluk.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

14. Imam Abu Hanifah berkata,

من قال لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض فقد كفر، وكذا من قال إنه على العرش، ولا أدري العرش

أفي السماء أم في الأرض

“Barangsiapa mengatakan “Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di langit atau di bumi”, berarti dia telah kafir. Demikian pula, orang yang mengatakan “Dia di atas 'Arsy, tetapi aku tidak tahu apakah 'Arsy itu berada di langit atau di bumi.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 49, Majmu' al-Fatawa karya Ibnu Taimiyyah: V/48, Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah karya Ibnul-Qayyim hal.139, Al-'Uluww karya al-Dzahabi hal. 101-102, Al-'Uluww karya Ibnu Qudamah hal. 116, dan Syarh al-Thahawiyyah karya Ibnu Abil-'Izz hal. 301)

15. Imam Abu Hanifah ketika ada seorang wanita yang bertanya kepadanya “Di manakah Tuhan yang kamu ibadahi?', beliau menjawab, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala berada di atas langit, bukan di bumi.' Ada seorang yang bertanya, 'Apa pendapat Anda tentang firman Allah Ta'ala [وَهُوَ مَعَكُمْ] (artinya) 'Dan Dia bersamamu'? (al-Hadid:4)' Beliau menjawab, 'Ini seperti surat yang kamu tulis kepada seseorang bahwa aku bersamamu, padahal kamu tidak menyertainya.” (Al-Asma' wa al-Shifat hal. 429)

16. Imam Abu Hanifah berkata,

والقرآن غير مخلوق

“Al-Quran itu bukan makhluk.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

17. Imam Abu Hanifah berkata, “Kami mengakui bahwa al-Quran adalah kalam Allah Ta'ala, bukan makhluk.” (Al-Jawahir al-Manfiyyah fi Syarh Washiyyah al-Imam hal. 10)

18. Imam Abu Hanifah berkata,

ونقر بأن الله تعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة

“Kami mengakui bahwa Allah Ta'ala bersemayam (istiwa') di atas 'Arsy, tanpa membutuhkan 'Arsy tersebut.” (Syarh al-Washiyyah hal. 10)

Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Hasan dari makalah Aqidatul A-immah al-Arba'ah fi Tauhidil Asma' wa al-Shifat karya Syaikh Abu Ibrahim al-Ra-isi al-'Amani 18 Shafar 1423 H.

sumber: Majalah FATAWA Vol. IV No. 05










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)