Artikel Bin Baz

JANGAN MALAS

Abu Bassam | Sabtu, 27 September 2014 - 11:47:38 WIB | dibaca: 3402 pembaca


Oleh Ustadz Amrin Musthofa, S.Pdi.

إن الحمد لله ، نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله .
{يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون} .
{يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا}
{يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا، يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما}
أما بعد :
فإن خير الكلام كلام الله ، وخير الهدي  هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار.
اللهم صلى وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم إلى يوم الدين

Ma’asyirol mu’minin rohimakumullah…….
Pada kesempatan kali ini tidak lupa senantiasa khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita bersama sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah azza wa jalla,  yang mana agar kita selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Maka dari itu senantiasa kita meminta perlindungan kepada Allah azza wa jalla dari perkara-perkara yang menyebabkan kita kesulitan dalam menggapai taqwa tersebut.

Ma’asyirol muminin rohimakumullah…….
Di antara penghalang untuk senantiasa kita bertaqwa kapada Allah azza wa jalla adalah adanya rasa malas pada diri kita. Malas merupakan salah satu penyakit yang kerap kali menimpa kaum muslimin pada umumnya dan lebih menimpa pada Tullabul ilmi pada khususnya. Penyakit malas ini merupakan musibah yang sangat membahayakan sekali dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak… karena malas ini termasuk sumber dari kegagalan dalam segala hal. Sampai sampai Rosullullahpun berlindung dari sifat ini, sebagaimana do’anya yang beliau panjatkan, dalam Riwayat Ahmad

عن أنس بن مالك قال: " كان رسول الله صلى الله عليه وسلّم يتعوّذ من ثمان، الهم، والحزن، والعجز، والكسل، والبخل، والجبن، وغلبة الدين، وغلبة العدُوّ

Artinya: dari Anas bin malik dia berkata : adalah Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari delapan macam: kegelisahan, kesedihan, kesialan, kemalasan, kebakhilan, ketakutan, penagih hutang, dan ancaman musuh.

Saudaraku sekalian yang semoga di rahmati oleh Allah…
Penyakit malas di lihat dari segi apapun mempunyai resiko yang sangat merugikan bagi kehidupan manusia, baik kehidupan dunia maupun akhirat.
Cukuplah bagi kita firman Allah yang menganjurkan agar kita tidak menunda-nunda waktu atau bermalas-malasan baik dalam hal keduniaan maupun dalam hal akhirat.

Dalam hal akhirat Allah azza wa jalla berfirman :
        
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون  

Artinya: wahai orang – orangyang beriman apabila telah di seru melaksanakan  sholat pada hari jum’at maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli  yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Demikian juga Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam besabda:

بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم، يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا، أو يمسي مؤمنا ويصبح كافرا، يبيع دينه بعرض من الدنيا    (روا مسلم والترميذي واحمد)

Artinnya : begegaslah untuk beramal sholih akan datang fitnah seperti gelapnya malam, yang mana seorang di pagi harinya mu’min dan di sore harinya menjadi kafir, atau di sore hari dia mu’min dan di sore hari menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan kehidupan dunia
.
Dan dalam hal keduniaan Allah azza wa jalla berfirman dalam lanjutan ayatnya:

فَاذا قضِيت الصّلاة فانتَشروا في الْأَرض وابتغوا من فضل اللّه واذكروا اللّه كثيرا لعلّكم تفلحون

Artinya; “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Allah azza wa jalla juga berfirman :

فَإِذا فرغت فانصب … وإِلى ربّك فارغب

Artinya: maka apabila kamu telah selesai dari satu pekerjaan maka beralihlah ke yang lainya...dan kepada robbmulah kamu mengharap.

Dari semua kategori malas, sifat malas dalam hal-hal yang bertujuan akhirat adalah hal yang paling buruk akibatnya karena menyebabkan kerugian di akhirat. Orang yang tidak memanfaatkan waktu di dunia untuk ketaatan kepada Allah azza wa jalla akan menyesal saat kematian mendatanginya. Sebagaimana permohonan penyesalan orang-orang yang malas bersedekah di waktu hidupnya kepada Allah azza wa jalla ketika maut sedang berhadapan dengannya. Sebagaimana penyesalan mereka yang Allah abadikan dalam Firman-Nya:

ربِ لولا أخّرتنِي إلى أجل قَرِيب فَأصّدّق وأكن من الصالِحِن

“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” (QS. al- Munafiqun: 10)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sifat malas atau senang menunda-nunda merupakan pintu keburukan dan hanya pantas disandingkan dengan keburukan. Berbagai contohnya antara lain: menunda shalat adalah ciri kemunafikan, menunda amanah adalah pintu pengkhianatan, menunda sedekah atau membayar hutang bagi yang mampu adalah kezhaliman dan menunda taubat adalah kebodohan.
Sebagaimana kisah seseorang di dalam kubur, orang yang bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan kelak akan ditemani oleh amal buruknya yang menampakkan diri dalam bentuk makhluk buruk rupa, busuk baunya dan kumal bajunya, ketika penghuni kubur bertanya siapa engkau ini?
Ia menjawab,

أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ كُنْتَ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللّهِ سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللّهِ فَجَزَاكَ اللّهُ شَرّا

“Aku adalah amalan burukmu, kamu dahulu berlambat-lambat dalam mentaati Allah dan bersegera dalam bermaksiat kepada Allah, maka Allah membalasmu dengan keburukan.”

Selanjutnya orang tersebut dipukul dengan tongkat besi hingga ia menjadi debu kemudian dikembalikan lagi menjadi semula oleh Allah azza wa jalla, kemudian dipukul lagi sehingga ia berteriak dengan satu teriakan yang didengar oleh semua makhluk di muka bumi kecuali oleh jin dan manusia.

Demikianlah begitu buruknya akibat dari kemalasan, lebih khusus lagi kita sebagai orang yang mencari ilmu maka tidak selayaknya kita menyandang predikat pemalas, kita tahu semua yang kita bawa adalah masalah agama, yang mana urusanya dengan Allah yang maha kuasa, yang mana Allah memilih orang-orang khusus untuk mengembanya yaitu para tullabatul ilmi, karena sudah menjadi kepastian bahwa kehormartan agama ini tergantung orang orang yang di amanahkan untuk menjaganya, yaitu para tullabatul ilmi, yang mana merekalah sebagai ujung tombak dalam mengentaskan kebodohan umat..

Ketahuilah wahai para tullabatul ilmi !

Sumber hancurnya agama ini adalah karena kebodohan umatnya, lihatlah saudara–saudara kita yang mereka di tindas oleh musuh musuh Allah saudara kita di cincang, para wanita muslim di perkosa, bayi-bayi muslim tak berdosa di bunuh. Hal ini tidak lain dan tidak bukan di sebabkan jauhnya umat ini dari ilmu agama, maka apakah pantas kalian wahai para pengemban agama Allah untuk bemalas-malasan, tunjukan kepedulian kalian terhadap saudara saudara kalian. Mulailah dengan mengangkat kebodohan pada diri kalian, kemudian selamatkan saudara-saudara kalian dari bahaya ancaman musuh musuh Allah, yang mana sangat mungkin apabila kebodohan masih menimpa sudara saudara kalian, mereka akan mencincang keluarga kalian, memperkosa saudara perempuan kalian, menjadikan kalian budak-budak musuh-musuh Allah na’uzubillah tsmuma na’uzubillah.

  بارك الله في القران العظيم ونفعني واياكم بما فية من الاياة وذكر الحكيم واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

       


KHUTBAH KE DUA

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحبه ويرصاه والصلاة والسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم إلى يوم الدين
أما بعد:


Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Agar kita bisa terbebas dari sifat malas dan bahayanya ada beberapa cara yang bisa ditempuh.



Pertama, jangan bermaksiat.


Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru , Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لِكُلّ عَمَلٍ شِرّةٌ وَلِكُلّ شِرّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Setiap amalan itu memiliki waktu semangat, dan setiap waktu semangat ada waktu jenuhnya. Barangsiapa yang waktu jenuhnya berada di atas sunnahku, maka ia telah beruntung. Dan barangsiapa yang waktu jenuhnya kepada selain sunnahku, maka ia telah binasa.” (HR. Ahmad)
Hadits di atas menunjukkan cara bagaimana kita mengatasi sifat jemu yang datang. Yaitu dengan mengamalkan hal-hal yang sunnah walaupun ringan dan tidak memberatkan diri, seperti silaturrahim, mendengarkan ceramah, mendengarkan bacaan al-Qur`an atau membaca buku. Hal ini lebih baik dibandingkan dengan melampiaskan nafsu untuk berleha-leha dan bermaksiat.



Kedua, Mengharap pahala dari Allah.


Ikhwah sekalian… terkadang rasa bosan beramal itu muncul ketika kita lupa akan pahala amalan tersebut, cobalah untuk membayangkan keutamaan dan pahalanya. Dengan demikian segala penat akan hilang, demikian pula rasa berat yang mengganjal akan menjadi ringan.
Pahala dan balasan dari Allah azza wa jalla sungguh lebih mahal dari usaha manusia untuk menebusnya bagaimana pun sulitnya. Dan jika dibandingkan dengan pahala dari Allah azza wa jalla, kesulitan dunia seperti tidak ada nilainya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah azza wa jalla bersabda,

وَيُؤْتَى بِأَشَدّ النّاسِ بُؤْسًا فِي الدّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطّ هَلْ مَرّ بِكَ شِدّةٌ قَطّ فَيَقُولُ لَا وَاللّهِ يَا رَبّ مَا مَرّ بِي بُؤْسٌ قَطّ وَلَا رَأَيْتُ شِدّةً قَطّ

“Dan didatangkan seseorang yang paling menderita di dunia yang termasuk penghuni surga, kemudian ditempatkan di surga sebentar saja. Ia ditanya, 'Wahai anak adam, apakah kamu pernah menderita atau mengalami kesulitan sekali saja?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, aku tidak pernah menderita atau mengalami kesulitan sama sekali.” (HR. Muslim)

Ketiga, Istiqamah.

Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


سَدّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنّةَ وَأَنّ أَحَبّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ

“Beramallah sesuai dengan sunnah dan berlaku seimbanglah. Dan ketahuilah bahwa salah seorang dari kalian karena amalannya. Dan sesungguhnya amal perbuatan yang Allah paling cintai adalah yang terus menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)
Hadits ini secara nyata menyatakan tentang keutamaan amalan yang dikerjakan secara disiplin dan terus menerus. Tidak berlebih-lebihan ketika terlalu semangat dan tidak berhenti sama sekali ketika semangat menurun. Dengan berdisiplin mengatur waktu dan merencanakan aktivitas, maka malas akan dapat diatasi. Memprioritaskan kegiatan yang lebih penting daripada yang tidak penting. Dan tentu saja menjaga kesinambungan dalam beramal.

Hasan al-Bashri berkata, “Jika syaithan melihatmu konsisten melakukan ketaatan, dia akan menajuhimu. Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, atau melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun semakin tamak untuk menggodamu.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم، إِنّك حميد مجيد.
نعوذبك من الْهَمِّ، وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْل، والجبن، وغلبة الدّين، وغلبة العدوّ
اللّهمّ اغفر للمؤمنين والمُؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات إِنّك سميع قريب مجيب الدعوات.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين

---***---

Artikel tersebut merupakan Materi Khutbah Jum'at 01 Dzulhijjah 1435 H / 26 September 2014 di Masjid Markaz Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta. (Oleh Ustadz Amrin Musthofa, S.Pdi, Beliau merupakan Ustadz / Pengajar di Islamic Centre Bin Baz).

 










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)